Khamis, 25 Disember 2014

Kisah Orang Tua Bijak

Pernah ada seorang tua yang hidup di desa kecil.
Meskipun ia miskin, semua orang cemburu kepadanya
karena ia memiliki kuda putih cantik


Bahkan raja menginginkan hartanya itu, Kuda seperti itu belum pernah dilihat orang, begitu gagah, anggun dan kuat

Orang-orang menawarkan harga amat tinggi untuk kuda
jantan itu, tetapi orang tua itu selalu menolak :


"Kuda ini bukan kuda bagi saya, Ia adalah
seperti seseorang


Bagaimana kita dapat menjual seseorang, Ia adalah sahabat bukan milik. Bagaimana kita dapat menjual seorang sahabat ?" 

Orang itu miskin dan godaan besar, Tetapi ia tetap tidak menjual kuda itu

Suatu pagi ia menemukan bahwa kuda itu tidak ada di
kandangnya


Seluruh desa datang menemuinya "Orang tua
bodoh", mereka mengejek dia : "Sudah kami katakan
bahwa seseorang akan mencuri kudamu


Kami peringatkan bahwa kamu akan di rampok, Anda begitu miskin... Mana mungkin anda dapat melindungi binatang yang begitu berharga ? Sebaiknya anda menjualnya, Anda boleh minta harga apa saja

Harga setinggi apapun akan dibayar juga. Sekarang kuda itu hilang dan anda dikutuk oleh kemalangan"

Orang tua itu menjawab : "Jangan bicara terlalu cepat


Katakan saja bahwa kuda itu tidak berada di
kandangnya, Itu saja yang kita tahu, selebihnya adalah
penilaian


Apakah saya di kutuk atau tidak, bagaimana
Anda dapat ketahui itu ? Bagaimana Anda dapat
menghakimi ?


Orang-orang desa itu protes : "Jangan menggambarkan kami sebagai orang bodoh, Mungkin kami bukan ahli filsafat, tetapi filsafat hebat tidak di perlukan

Fakta sederhana bahwa kudamu hilang adalah
kutukan"


Orang tua itu berbicara lagi : "Yang saya tahu
hanyalah bahwa kandang itu kosong dan kuda itu pergi, Selebihnya saya tidak tahu


Apakah itu kutukan atau berkat, saya tidak dapat katakan, Yang dapat kita lihat hanyalah sepotong saja, Siapa tahu apa yang akan terjadi nanti ?" 

Orang-orang desa tertawa, Menurut mereka orang itu
gila, Mereka memang selalu menganggap dia orang tolol,
kalau tidak, ia akan menjual kuda itu dan hidup dari
uang yang diterimanya


Sebaliknya, ia seorang tukang potong kayu miskin, orang tua yang memotong kayu bakar dan menariknya keluar hutan lalu menjualnya

Uang yang ia terima hanya cukup untuk membeli makanan, tidak lebih, Hidupnya sengsara sekali, Sekarang ia sudah
membuktikan bahwa ia betul-betul tolol


Sesudah lima belas hari, kuda itu kembali


Ia tidak di curi, ia lari ke dalam hutan, Ia tidak hanya kembali,
ia juga membawa sekitar selusin kuda liar bersamanya


Sekali lagi penduduk desa berkumpul sekeliling tukang
potong kayu itu dan mengatakan : 


"Orang tua, kamu benar dan kami salah, Yang kami anggap kutukan sebenarnya berkat, Maafkan kami"

Jawab orang itu : "Sekali lagi kalian bertindak
gegabah, Katakan saja bahwa kuda itu sudah balik


Katakan saja bahwa selusin kuda balik bersama dia,
tetapi jangan menilai, Bagaimana kalian tahu bahwa ini
adalah berkat ? 


Anda hanya melihat sepotong saja, Kecuali kalau kalian sudah mengetahui seluruh cerita, bagaimana anda dapat menilai ? Kalian hanya membaca satu halaman dari sebuah buku

Dapatkah kalian menilai seluruh buku ? Kalian hanya membaca satu kata dari sebuah ungkapan

Apakah kalian dapat mengerti seluruh ungkapan ? Hidup ini begitu luas, namun Anda menilai seluruh hidup berdasar

kan satu halaman atau satu kata, Yang anda tahu hanyalah sepotong, Jangan katakan itu adalah berkat

Tidak ada yang tahu, Saya sudah puas dengan apa yang saya tahu, Saya tidak terganggu karena apa yang saya tidak tahu"

"Barangkali orang tua itu benar," mereka berkata satu
kepada yang lain


Jadi mereka tidak banyak berkata-kata, Tetapi di dalam hati mereka tahu ia salah, Mereka tahu itu adalah berkat

Dua belas kuda liar pulang bersama satu kuda, Dengan kerja sedikit, binatang itu dapat dijinakkan dan dilatih, kemudian
dijual untuk banyak uang

Orang tua itu mempunyai seorang anak laki-laki, Anak
muda itu mulai menjinakkan kuda-kuda liar itu, Setelah
beberapa hari, ia terjatuh dari salah satu kuda dan
kedua kakinya patah


Sekali lagi orang desa berkumpul sekitar orang tua itu dan menilai. 

"Kamu benar", kata mereka, Kamu sudah buktikan bahwa kamu benar, Selusin kuda itu bukan berkat

Mereka adalah kutukan, Satu-satunya puteramu patah kedua kakinya dan sekarang dalam usia tuamu kamu tidak ada siapa-siapa untuk membantumu, Sekarang kamu lebih miskin lagi

Orang tua itu berbicara lagi : 

"Ya, kalian kesetanan dengan pikiran untuk menilai, menghakimi, Jangan keterlaluan, Katakan saja bahwa anak saya patah kaki, Siapa tahu itu berkat atau kutukan ? Tidak ada yang tahu

Kita hanya mempunyai sepotong cerita, Hidup ini datang
sepotong-sepotong"


Maka terjadilah dua minggu kemudian negeri itu berperang dengan negeri tetangga, Semua anak muda di desa diminta untuk menjadi tentara, Hanya anak si orang tua tidak diminta karena ia terluka

Sekali lagi orang berkumpul sekitar orang tua
itu sambil menangis dan berteriak karena anak-anak
mereka sudah dipanggil untuk bertempur, Sedikit sekali
kemungkinan mereka akan kembali


Musuh sangat kuat dan perang itu akan dimenangkan musuh, Mereka tidak akan melihat anak-anak mereka kembali. 

"Kamu benar, orang tua", mereka menangis : "Tuhan tahu, kamu benar

Ini buktinya, Kecelakaan anakmu merupakan berkat, Kakinya patah, tetapi paling tidak ia ada bersamamu, Anak-anak kami pergi untuk selama-lamanya

Orang tua itu berbicara lagi : "Tidak mungkin untuk
berbicara dengan kalian, karena Kalian selalu menarik

 

Kesimpulan :

Tidak ada yang tahu. Katakan hanya ini :
anak-anak kalian harus pergi berperang, dan anak saya
tidak. 


Tidak ada yang tahu apakah itu berkat atau
kutukan, Tidak ada yang cukup bijaksana untuk
mengetahui, Hanya Allah yang tahu".

Moral cerita :


Orang tua itu benar. Kita hanya tahu sepotong dari
seluruh kejadian, Kecelakaan-kecelakaan dan kengerian
hidup ini hanya merupakan satu halaman dari buku
besar, Kita jangan terlalu cepat menarik kesimpulan.



Kita harus simpan dulu penilaian kita dari badai-badai
kehidupan sampai kita ketahui seluruh cerita.

Entri Populer