Sabtu, 15 November 2014

Kaya dan Miskin

Satu hari, seorang ayah yang berasal dari keluarga kaya membawa anaknya dalam satu perjalanan keliling negeri dengan tujuan memperlihatkan pada si anak bagaimana miskinnya kehidupan orang-orang disekitarnya

Mereka lalu menghabiskan beberapa hari di sebuah rumah pertanian yang dianggap si ayah dimiliki keluarga yang amat miskin

Setelah kembali dari perjalanan mereka, si ayah menanyai anaknya :

“Bagaimana perjalanannya nak?”

“Perjalanan yang hebat, yah”

“Sudahkah kamu melihat betapa miskinnya orang-orang hidup?,” Si bapak bertanya

“O tentu saja,” jawab si anak

“Sekarang ceritakan, apa yang kamu pelajari dari perjalanan itu,” kata si bapak

Si anak menjawab :

Saya melihat bahwa kita punya satu anjing, tapi mereka punya empat anjing

Kita punya kolam renang yang panjangnya sampai pertengahan taman kita, tapi mereka punya anak sungai yang tidak ada ujungnya

Kita mendatangkan lampu-lampu untuk taman kita, tapi mereka memiliki cahaya bintang di malam hari

Teras tempat kita duduk-duduk membentang hingga halaman depan, sedang teras mereka adalah horizon yang luas

Kita punya tanah sempit untuk tinggal, tapi mereka punya ladang sejauh mata memandang

 


Kita punya pembantu yang melayani kita, tapi mereka melayani satu sama lain

Kita beli makanan kita, tapi mereka menumbuhkan makanan sendiri

Kita punya tembok disekeliling rumah untuk melindungi kita, sedangkan mereka punya teman-teman untuk melindungi mereka

Ayah si anak hanya bisa bungkam

Lalu si anak menambahkan kata-katanya : “Ayah, terima kasih sudah menunjukkan betapa MISKIN-nya kita”

Hikmah yang bisa diambil dari kisah inspirasi diatas :

Kaya dan Miskin tergantung pada persepsi kita sendiri, bukan pada penilaian orang lain


Orang lain yang tampak miskin bagi kita, boleh jadi termasuk kaya menurut orang lain, atau bahkan mereka sendiri

Entri Populer