Kamis, 25 Desember 2014

Menyongsong Kematian

Pak Permana meninggal dunia," kata teman saya di telepon, Saya terkesiap, Dua hari lalu saya sempat bertemu dengan Pak Permana.

Masih segar bugar, Kami ngobrol ngalor-ngidul, sambil bersenda gurau dan tertawa-tawa. 


Tidak ada tanda-tanda sedikit pun hidup Pak Permana akan sesingkat itu, Rupanya, Pak Permana terkena serangan jantung

Sehabis bermain tenis, ia mengeluh dadanya sakit, Lalu, tidak lama sesudah itu ia pingsan, Dalam perjalanan ke rumah sakit, ia mengembuskan napasnya yang terakhir.

Begitulah hidup, Sangat ringkih, Bisa dibilang, kita ini berada di bawah bayang-bayang kematian, Setiap saat kita bisa dijemput oleh kematian


Kapan saja dan di mana saja, Tidak saja ketika usia kita sudah uzur atau ketika tubuh sakit-sakitan


Namun juga saat kita "masih" di usia muda, berada di puncak karier, dan di saat tubuh kita sehat

Kematian tidak pandang bulu; tidak pandang usia; tidak pandang situasi dan kondisi kita

Pemazmur bahkan mengibaratkan hidup kita ini seperti rumput yang di waktu pagi berkembang dan bertumbuh, akan tetapi di waktu petang ia sudah lisut dan layu.

Lalu bagaimana? Apakah kita pasrah dan pasif saja menjalani hari-hari, sekadar untuk menunggu kematian datang? 


Tidak, Kesadaran bahwa kita bisa kapan saja dijemput kematian seharusnya mendorong kita untuk hidup dengan sebaik-baiknya dan sebenar-benarnya. 

Soal kapan pun kematian itu datang menjemput, kalau kita sudah berusaha hidup bijak dan bajik di dalam Tuhan

kita akan menghadapinya dengan tenang. Untuk itu, kuncinya adalah berjaga-jaga senantiasa

Entri Populer