Mayoritas manusia ketika memandang aspek ketidaklanggengan, ketidakabadian, dan keterbatasan kehidupan di dunia ini lantas melahirkan pertanyaan-pertanyaan tentang filsafat penciptaan dan tujuan kehidupan.
Semua kebahagiaan, kenikmatan, dan kebaikan di dunia ini harus mengalami kefanaan, kehancuran, dan kepunahan. Tak satupun dari hal dan realitas kehidupan yang abadi dan langgeng.
Inilah sebuah kenyataan yang tak satupun manusia mengingkarinya.
Di lubuk hatinya yang terdalam ia bertanya:
apakah tujuan dan arah kehidupan?
Apakah hakikat penciptaan alam yang tidak abadi ini?
Apakah makna dan nilai-nilai kehidupan di dunia ini?
Apakah substansi dan esensi kehidupan material ini?
Apakah yang diinginkan dari kehidupan seperti ini?
Apakah masa anak-anak harus berakhir dengan masa remaja?
Apakah masa remaja harus berujung pada masa dewasa dan masa tua?
Bukankah setelah semua penderitaan, kesedihan, dan kecelakaan yang di alami manusia di dunia ini berakhir niscaya beralih pada kebahagiaan, kegembiraan, dan keberuntungan manusia?
Bagaimana dengan segelintir manusia yang selama hidupnya senantiasa mengalami penderitaan dan kezaliman?
Pada dasarnya manusia senantiasa merindukan kesempurnaan, kebaikan, dan kebahagiaan hakiki, ketika ia telah mendapatkan apa yang dicita-citakan, maka mustahil ia menanyakan dan merenungkan kembali hal-hal yang berhubungan dengan hakikat hidup, filsafat penciptaan, dan tujuan kehidupan.
Misteri kematian
Kehidupan setiap manusia, baik yang dijalani dengan penuh kebahagiaan dan kegembiraan atau dilalui dengan segala penderitaan, kecelakaan, dan kezaliman harus berujung dan berakhir dengan realitas kematian.
Kematian merupakan suatu kenyataan yang tidak dapat dipungkiri dan mustahil ditolak oleh semua manusia bahkan oleh setiap makhluk.
Seluruh manusia jujur berkata bahwa satu-satunya kenyataan dalam catatan kehidupan mereka adalah kematian.
Ketika manusia melihat kehidupannya sendiri, ia mendapatkan kehidupannya yang harus berujung pada gerbang kematian.
Ia lantas merenung bahwa mengapa kehidupan dunia ini tercipta dan setelah menjalaninya untuk beberapa waktu lamanya dalam kubangan lumpur penderitaan mesti berakhir pada kematian?
Mengapa tidak dari awalnya kehidupan alam materi ini dibentuk secara abadi dan berkepanjangan?
Apakah permainan kehidupan ini yang ujungnya adalah kematian memiliki arah dan tujuan?
Apakah substansi dan esensi kehidupan?
Begitu banyak manusia yang dapat kita saksikan bagaimana dalam kehidupannya bersikap cuek terhadap hakikat dan tujuan penciptaan
tetapi ketika mendengar atau menyaksikan langsung kematian salah satu dari keluarga yang dicintainya maka ia seketika tersentak dan kemudian larut merenungan kembali pada filsafat penciptaan dan tujuan kehidupan manusia di dunia ini.
Kehidupan sosial yang tak menguntungkan
Kondisi kehidupan masyarakat yang sarat dengan problem dan masalah yang sulit mencari solusi dan pemecahannya merupakan salah satu faktor yang dapat membuat manusia kembali merenungkan makna kehidupan dan tujuan penciptaannya.
Seorang miskin yang jauh dari kenikmatan kehidupan duniawi, kehidupannya dijalani dengan segala penderitaan, usaha keras dan banting tulang dari pagi sampai malam hari terus mencari sesuap nasi dan memenuhi segala kebutuhan primernya
orang seperti ini yang hanya mendapatkan penderitaan dan kemalangan hidup niscaya akan merenungkan kembali makna dan arti kehidupan.
Mengapa kita harus hadir di dunia ini sehingga harus menjalani kehidupan dengan penuh penderitaan dan kemalangan?
Sudah tentu ada diantara orang-orang yang tidak mendapatkan hak-haknya, tidak berhasil, dan tidak rela dengan kondisi hidupnya di dunia ini pasti akan melontarkan kata tentang arah dan tujuan kehidupan duniawi.
Tapi kalau diperhatikan sejenak, begitu banyak orang-orang seperti ini bila meraih apa yang diinginkannya di dunia ini kemungkinan besar tidak memikirkan hal-hal yang berhubungan dengan makna dan tujuan penciptaan
karena mereka sesungguhnya hanya menginginkan perubahan kondisi kehidupan duniawinya dan lantas menempatkan secara salah pertanyaan tentang tujuan hidup
Rabu, 03 Desember 2014
-
Saya lupa kunci keamanan (password) Sandi dapat direset dengan menggunakan utilitas FlashAir Buka utilitas FlashAir. Pilih "Peng...
-
Ibrahim Pasha dikenal sebagai Pargali Ibrahim Pasha ketika ia dinobatkan sebagai Wazir Agung, mengganti Piri Mehmed Pasha pada 1523. Jabata...
Entri Populer
-
Kesetiaan itu adalah hal yang paling penting dalam hubungan, Tanpa kesetiaan hubungan yang bernamakan cinta hanya akan sangat menyakitka...
-
Bayi super besar Muhammad Akbar Arya Risudin masih menjadi pusat perhatian. Selain didatangi warga dari berbagai kota di Sumatra Ut...
-
Ustadzah : Saya tak Pernah Menolak Hukum Poligami ! Jamaah Pria : ( Terdegar Suara Ribut ) Wah, Hebat Nih Ustadzah : Saya juga Tida...
-
kebiasaan ini harus anda hindari. Mungkin anda sendiri tidak menyadarinya karena sudah menjadi kebiasaan anda sehari-hari. Apa saja 7 ke...
-
Teka-teki Binatang 01. Bebek apa yg jalannya selalu muter ke kiri terus? Bebek dikunci stang 02. Kenapa Bebek goreng enak rasanya? Kare...
-
1. Hematlah dalam mengeluarkan uang anda, cerdaslah dalam mengelola uang yang telah anda hemat. 2. Hemat membuat anda tidak kekurangan uang,...