Ada
banyak orang yang berusaha susah payah membuat orang lain senang
sehingga kepentingannya sendiri terlupakan.
Orang-orang seperti itu
biasanya tidak mampu menolak permintaan tolong dari orang lain.
Seolah-olah kata "tidak" itu tabu, tidak ada dalam perbendaharaan
katanya.
Semua ini kadang-kadang menyengsarakan dirinya sendiri, karena
sibuk meluangkan waktu bagi siapa saja.
Bukan berarti kita tidak
perlu menolong orang, tetapi segala sesuatu ada batasnya.
Bagaimana
menolak permintaan orang yang tidak semestinya kita penuhi untuk
mengatur keseimbangan waktu kita?
Di tempat kerja seorang
kenalan saya. Ada teman kerjanya yang tidak tahu diri sehingga membuat
orang lain bekerja keras sedangkan dirinya sendiri berlenggang kangkung.
Di toko tempat bekerja dulu, seorang teman kerjanya mengeluh karena
seorang yang seharusnya menjadi pemimpin kelompoknya malah hanya
menyibukkan diri di meja kasir padahal banyak pakaian, baju-baju wanita
yang menumpuk di kamar pas dan harus dikembalikan di bagian depan.
Teman ini seorang pekerja keras yang tidak pernah berleha-leha bila
bekerja.
Karena pemimpin kelompoknya itu orang baru mula-mula teman ini
membiarkannya menyesuaikan diri dengan pekerjaannya.
Tetapi sesudah
berbulan-bulan tetap saja begitu, teman ini jadi kurang sabar.
Pemimpin kelompok di departemen lain bekerja lebih keras daripada anak
buahnya, maklum mereka juga digaji lebih banyak, tetapi yang ini cuma
menyuruh kanan kiri, tidak pernah mengerjakannya sendiri.
Walau teman ini sudah mengadu kepada atasan mereka, tetapi si atasan
tidak bertindak apa-apa karena si pemimpin kelompok pandai bermuka-muka
dan bila atasan mereka bekerja dia akan berlagak sibuk.
Akhirnya teman ini memutuskan bahwa dia sudah cukup bersusah payah
memeras keringat, dia tidak mau lagi membanting tulang dan bekerja
sepantasnya saja.
Dalam pergaulan. Banyak orang yang berusaha memanfaatkan teman yang baik hati mau mengantar ke sana ke mari.
Teman seperti ini biasanya sulit menolak permintaan orang, dia harus
meluangkan waktu, membeli bensin dengan uang sendiri, membayar ongkos
pemeliharaan mobil, dan lain-lain.
Akhirnya dia merasa repot juga, karena bila dia kebetulan tidak sempat mengantar, orang itu marah dan menganggapnya sombong.
Di samping itu dompetnya juga menderita karena harga bensin naik terus.
Ada orang yang memanfaatkan kebaikan temannya untuk selalu berhutang.
Mungkin mula-mula temannya tidak keberatan tetapi lama kelamaan merasa kesal dihutangi terus menerus.
Dalam keluarga. Ada orang yang mempunyai ibu mertua rewel, tiba-tiba
datang dengan semua barangnya untuk tinggal bersama tanpa peduli bahwa
anaknya baru saja menikah dan butuh privasi.
Di rumah dia selalu
memanggil anaknya untuk urusan kecil-kecil maupun sekedar untuk
berbicara.
Dia tidak peduli keadaan keuangan anaknya yang
pas-pasan, yang penting semua kebutuhannya terpenuhi. Dia menganggap
dirinya ratu di rumah itu sehingga orang-orang lain merasa sengsara.
Akhirnya sang menantu merasa muak dan secara terus terang mengemukakan
kekesalannya kepada ibu mertuanya. Walau semula dia ingin menyenangkan
hati ibu dari istrinya, tetapi lama kelamaan dia merasa diinjak-injak.
Dalam percintaan. Tidak jarang seorang cowo menderita karena cewe yang
dicintainya memperbudak dia.
Sedikit-sedikit cemberut bila keinginannya
tidak terpenuhi, rengeknya "Kamu tidak sayang lagi sama akuuuuu."
Terpaksa si cowo lari tunggang langgang mengejar tukang sate gara-gara
cewenya bilang ingin makan sate sesudah si tukang sate menghilang di
belokan jalan.
Begitu sayangnya dia kepada si cewe sehingga
apa saja permintaannya pasti dia turuti karena tidak ingin cewenya
menarik muka asam.
Cowo yang seperti ini seharusnya sadar dan tidak
terlalu memanjakan pacarnya karena sesudah berumah tangga bisa-bisa dia
jadi pahlawan bakiak.
Melihat contoh-contoh di atas, kita
seharusnya mampu menarik garis batas untuk menetapkan mana yang pantas
mana yang keterlaluan.
Bila kepentingan dasar kita sampai
terlantar karena keinginan kita menyenangkan orang lain, berarti kita
harus menahan diri untuk tidak selalu mengiyakan permintaan orang.
Tidak ada salahnya menolak permintaan orang asalkan itu dilakukan secara halus dan tidak sampai menyinggung perasaan orang itu.
-
Saya lupa kunci keamanan (password) Sandi dapat direset dengan menggunakan utilitas FlashAir Buka utilitas FlashAir. Pilih "Peng...
-
Ibrahim Pasha dikenal sebagai Pargali Ibrahim Pasha ketika ia dinobatkan sebagai Wazir Agung, mengganti Piri Mehmed Pasha pada 1523. Jabata...
Entri Populer
-
Kesetiaan itu adalah hal yang paling penting dalam hubungan, Tanpa kesetiaan hubungan yang bernamakan cinta hanya akan sangat menyakitka...
-
Tips Memaafkan Pacar yang Selingkuh Agar Tidak Selingkuh Lagi, Apakah pasangan Anda layak mendapatkan kesempatan kedua setelah mengkhianati...
-
Pertanyaan Pria Yang Membuat Wanita Kesal Aneh tapi nyata, faktanya memang demikian, ketika seorang pria menanyakan 'jam berapa ini? ...
-
Bayi super besar Muhammad Akbar Arya Risudin masih menjadi pusat perhatian. Selain didatangi warga dari berbagai kota di Sumatra Ut...
-
Siapa bilang keindahan akan negeri dongeng hanya ada di film atau cerita fiktif saja? Bagi yang sering melakuka...
-
Ustadzah : Saya tak Pernah Menolak Hukum Poligami ! Jamaah Pria : ( Terdegar Suara Ribut ) Wah, Hebat Nih Ustadzah : Saya juga Tida...