Perang kata-kata diawali dengan maklumat “Dasar menantu brengsek” Kemudian disambut balasan serangan balik “Dasar mertua brengsek”
Sejak saat itu tembok pemisah berkalung kawat berduri dibangun kokoh sebagai tanda ucapan selamat berpisah antara menantu dengan mertua.
Perang dingin antara mertua dengan menantu dapat kita temukan di mana-mana, Masing-masing merasa benar, Saling menyalahkan.
Apalagi dibumbui bisikan pihak ketiga yang berperan sebagai cheerleader, Bukan jalan keluar yang diupayakan, justru kobaran permusuhan yang disulutkan.
Adakah pihak yang beruntung? Tidak ada. Semua pihak kalah. Semua pihak terluka.
untuk memburu titik temu sambil meredam titik api, Untuk itu marilah kita catat beberapa contoh sebab musabab permusuhan.
+ Persoalan mertua:
1) Mertua sakit hati menemukan menantu kurang hormat dan kurang sayang kepada mertua
Mertua hilang sakit hati bila mengubah pandangan bahwa kurang hormat/sayang adalah masalah pribadi si menantu. Kenapa mertua menanggung?
2) Mertua kecewa anaknya kurang dekat sejak kawin dengan menantu
Mertua tidak kecewa bila memaklumi bahwa pasangan suami-istri adalah dua orang paling dekat
Mereka bukanlah dua orang yang tidur bareng sekedar untuk bikin anak kemudian menomerduakan pasangan hidup
Hanya mertua egois sumber segala masalah yang ingin dinomersatukan oleh anak seperti ketika anak belum nikah.
3) Mertua panik liat menantu kurang beres dalam berumahtangga
Mertua bisa menentramkan diri bila menyadari bahwa rumah tangga anak adalah urusan dalam negeri anak.
4) Mertua marah karena anak-menantu tidak nurut
Mertua hanya menyaikiti diri dengan marah-marah, Mungkin berujung sakit-sakitan berbiaya mahal di rumah sakit.
Alangkah lucunya orang tua sudah melepas anak untuk berumah tangga tapi ngeyel mau ngatur-ngatur rumah tangga anak.
Sikap seperti ini akan ditiru oleh anak-anak buat turut campur rumah tangga sodara, Jika diteruskan Jangan harap kerukunan keluarga besar terpelihara
5) Mertua tidak tenang beribadah karena menantu kurang alim atau tidak sejalan dalam bergama
Mertua pasti tenang beribadah bila merasa sudah cukup mendidik anak sampai dewasa, Selanjutnya urusan ibadah adalah tanggungan sendiri anak-menantu kepada Tuhan, Lagipula alim beribadah tidak sama dengan bagusnya akhlaq/moral/etika.
Persoalan Menantu:
1) Menantu males ketemu mertua yang mulutnya suka menjelek-jelekan menantu
Kebesaran jiwa menantu yang dijelek-jelekan tapi tetap menjalin hubungan dengan mertua adalah justru meredam mulut usil mertua secara elegan.
2) Menantu malu punya mertua kampungan, buruk akhlaq, dan tidak dihormati lingkungan
Ngapain malu? Anda kawin dengan anaknya, Dosa-dosa mertua bukan tanggung jawab Anda.
3) Menantu sewot tidak dapat bantuan ekonomi dari mertua
Menantu bisa happy tanpa bantuan mertua bila membuka mata-telinga lebar-lebar bahwa rejeki datang dari banyak jurusan.
4) Menantu sakit hati tidak dapat harta waris mertua secara adil dan memadai
Alangkah kerdilnya jiwa ini bila agenda masa depan disusun atas dasar neraca rugi-laba dengan andalan harta waris.
5) Menantu kecewa berat karena gagal ngatur-ngatur mertua yang dibantu secara sosial dan ekonomi
Menantu menyakiti diri ketika memberi sesuatu dengan ngarep-ngarep balasan agar mereka bertekuk lutut.
Ketahuilah bahwa banyak kasus cekcok, bentrok, cerai diawali oleh gairah turut campur orang tua dan sodara ke dalam rumah tangga, Walaupun niatnya bagus tapi kenyataannya lebih merusak daripada memperbaiki
Bila sudah terlanjur rusak hubungan tali kasih maka jalan terbaik diawali dengan saling introspeksi, Kemudian dimatangkan dengan saling memaafkan, Dan digolkan dengan mengutamakan titik temu antar pihak yang berseteru