Minggu, 22 Februari 2015

Kisah Wanita Buta

Seluruh penumpang di dalam bus merasa simpati melihat seorang wanita muda dengan tongkatnya meraba-raba menaiki tangga bus

Dengan tangannya yang lain di meraba posisi dimana sopir berada, dan membayar ongkos bus

Lalu berjalan ke Dalam bus mencari-cari bangku yang kosong dengan tangannya

Setelah yakin bangku yang dirabanya kosong, dia duduk, ia Meletakkan tasnya di atas pangkuan, dan satu tangannya masih memegang tongkat

Satu tahun sudah, Yasmin, wanita muda itu, mengalami buta, ia mengalami Suatu kecelakaan telah berlaku atasnya, dan menghilangkan penglihatannya untuk selama-lamanya


Dunia tiba-tiba saja menjadi gelap dan segala harapan dan cita-cita menjadi sirna

Dia adalah wanita yang penuh dengan ambisi menaklukan dunia, aktif di segala perkumpulan, baik di sekolah, rumah maupun di lingkungannya

Tiba-tiba saja semuanya sirna, begitu kecelakaan itu dialaminya


Kegelapan, frustrasi, dan rendah diri tiba-tiba saja menyelimuti jiwanya, Hilang sudah masa depan yang selama ini dicita-citakan

Merasa tak berguna dan tak ada seorang pun yang sanggup menolongnya selalu membisiki hatinya. 


“Bagaimana ini bisa terjadi padaku?” dia menangis, Hatinya protes, diliputi kemarahan dan putus asa

Tapi, tak peduli sebanyak apa pun dia mengeluh dan menangis, sebanyak apa pun dia protes, sebanyak apapun dia berdo’a dan memohon, dia harus tahu, penglihatannya tak akan kembali

Diantara frustrasi, depresi dan putus asa, dia masih beruntung, karena mempunyai suami yang begitu penyayang dan setia, namanya Burhan


Burhan adalah seorang prajurit TNI biasa yg bekerja sebagai security di sebuah perusahaan

Dia mencintai Yasmin dg seluruh hatinya, Ketika mengetahui Yasmin kehilangan penglihatan, rasa cintanya tidak berkurang

Justru perhatiannya makin bertambah, ketika dilihatnya Yasmin tenggelam kedalam jurang keputus-asaan


Burhan ingin menolong mengembalikan rasa percaya diri Yasmin, seperti ketika Yasmin belum menjadi buta

Burhan tahu, ini adalah perjuangan yang tidak gampang, Butuh extra waktu dan kesabaran yg tidak sedikit


Karena buta, Yasmin tidak bisa terus bekerja di perusahaannya, Dia berhenti dengan terhormat, Burhan mendorongnya supaya belajar huruf Braile. 

Dengan harapan, suatu saat bisa berguna untuk masa depan

Tapi bagaimana Yasmin bisa belajar? Sedangkan untuk pergi ke mana-mana saja selalu diantar Burhan?

Dunia ini begitu gelap, Tak ada kesempatan sedikitpun untuk bisa melihat jalan


Dulu, sebelum menjadi buta, dia memang biasa naik bus ke tempat kerja dan ke mana saja sendirian

Tapi kini, ketika buta, apa sanggup dia naik bus sendirian? Berjalan sendirian? Pulang-pergi sendirian? 

Siapa yang akan melindunginya ketika sendirian? Begitulah yang berkecamuk di dalam hati Yasmin yg putus asa

Tapi Burhan membimbing Jiwa Yasmin yg sedang frustasi dg sabar

Dia merelakan dirinya untuk mengantar Yasmin ke sekolah, di mana Yasmin musti belajar huruf Braile

Dengan sabar Burhan menuntun Yasmin menaiki bus kota menuju sekolah yang dituju. 


Dengan Susah payah dan tertatih-tatih Yasmin melangkah bersama tongkatnya, Sementara Burhan berada di sampingnya. 

Selesai mengantar Yasmin dia menuju tempat dinas, Begitulah, selama berhari-hari dan berminggu-minggu Burhan mengantar dan menjemput Yasmin, Lengkap dengan seragam dinas security

Tapi lama-kelamaan Burhan sadar, tak mungkin selamanya Yasmin harus diantar; pulang dan pergi


Bagaimanapun juga Yasmin harus bisa mandiri, tak mungkin selamanya mengandalkan dirinya, Sebab dia juga punya pekerjaan yg harus dijalaninya

Dengan hati-hati dia mengutarakan maksudnya, supaya Yasmin tak tersinggung dan merasa dibuang

Sebab Yasmin, bagaimanapun juga masih terpukul dengan musibah yg dialaminya.

Seperti yg diramalkan Burhan, Yasmin histeris mendengar itu, Dia merasa dirinya kini benar-benar telah tercampakkan


“Saya buta, tak bisa melihat!” teriak Yasmin. 

“Bagaimana saya bisa tahu saya ada di mana? Kamu telah benar-benar meninggalkan saya.” 

Burhan hancur hatinya mendengar itu, Tapi dia sadar apa yang musti dilakukan

Mau tak mau Yasmin musti terima, Musti mau menjadi wanita yg mandiri, Burhan tak melepas begitu saja Yasmin, Setiap pagi, dia mengantar Yasmin menuju halte bus


Dan setelah dua minggu, Yasmin akhirnya bisa berangkat sendiri ke halte, Berjalan dengan tongkatnya. 

Burhan menasehatinya agar mengandalkan indera pendengarannya, di manapun dia berada

Setelah dirasanya yakin bahwa Yasmin bisa pergi sendiri, dengan tenang Burhan pergi ke tempat dinas. 


Sementara Yasmin merasa bersyukur bahwa selama ini dia mempunyai suami yang begitu setia dan sabar membimbingnya

Memang tak mungkin bagi Burhan untuk terus selalu menemani setiap saat ke manapun dia pergi

Tak mungkin juga selalu Diantar ke tempatnya belajar, sebab Burhan juga punya pekerjaan yg harus dilakoni.

Dan dia adalah wanita yg dulu, sebelum buta, tak pernah menyerah pada tantangan dan wanita yg tak bisa diam saja


Kini dia harus menjadi Yasmin yg dulu, yg tegar dan menyukai tantangan dan suka bekerja dan belajar

Hari-hari pun berlalu...

Dan sudah beberapa minggu Yasmin menjalani rutinitasnya belajar, dengan mengendarai bus kota sendirian.

Suatu hari, ketika dia hendak turun dari bus, sopir bus berkata, “saya sungguh iri padamu”. 


Yasmin tidak yakin, kalau sopir itu bicara padanya. 

“Anda bicara pada saya?” 

” Ya”, jawab sopir bus “Saya benar-benar iri padamu”

Yasmin kebingungan, heran dan tak habis berpikir, bagaimana bisa di dunia ini, seorang buta, wanita buta, yg berjalan terseok-seok dengan tongkatnya hanya sekedar mencari keberanian mengisi sisa hidupnya, membuat orang lain merasa iri? “Apa maksud anda?” Yasmin bertanya penuh keheranan pada sopir itu. 

“Kamu tahu,” jawab sopir bus, “Setiap pagi, sejak beberapa minggu ini, seorang lelaki muda dengan seragam militer selalu berdiri di sebrang jalan

Dia memperhatikanmu dengan harap-harap cemas ketika kamu menuruni tangga bus

Dan ketika kamu menyebrang jalan, dia perhatikan langkahmu dan bibirnya tersenyum puas begitu kamu telah melewati jalan itu

Begitu kamu masuk gedung sekolahmu, dia meniupkan ciumannya padamu, memberimu salut, dan pergi dari situ, Kamu sungguh wanita beruntung, ada yang memperhatikan dan melindungimu”.

Air mata bahagia mengalir di pipi Yasmin. 


Walaupun dia tidak melihat orang tersebut, dia yakin dan merasakan kehadiran Burhan di sana

Dia merasa begitu beruntung, sangat beruntung, bahwa Burhan telah memberinya sesuatu yang lebih berharga dari penglihatan. 

Sebuah pemberian yang tak perlu untuk dilihat, kasih sayang yang membawa cahaya, ketika dia berada dalam kegelapan

Entri Populer