Ia adalah Raja di Mesir yang juga mengaku Tuhan.
Firaun –bahasa Arab disebut Fir’awn-- bukanlah nama seseorang. Aslinya berasal dari kata Paroh (bahasa Ibrani) atau Pr-Aa (bahasa Mesir) yang artinya adalah rumah besar (istana) kemudian bergeser menjadi gelar bagi penguasa.
Gelar Firaun berkembang di masyarakat pertanian yang hidup di lembah Sungai Nil, Mesir.
Nama itu merujuk pada sosok yang dihormati dan menjadi pengatur norma-norma kehidupan di kawasan itu.
Seirama dengan perkembangan masyarakat, maka gelar ini menjadi milik pemimpin negara dan pemimpin agama. Semula ada dua penguasa di Mesir, yaitu di hilir dan hulu Sungai Nil.
Belakangan Raja Menes dari Thebes menyatukannya.
Dari Raja Menes inilah kedigdayaan Firaun dimulai. Ia hidup sekitar 3100-3000 SM, dalam catatan sejarah Menes disebut sebagai Raja Mesir Dinasti I.
Dialah yang mendirikan Memphis yang menjadi ibukota Mesir.
Firaun tak hanya seorang raja, ia juga menyebut dirinya sebagai Tuhan, atau setidaknya dianggap sebagai wakil bangsa Mesir di hadapan para dewa.
Sehingga setelah meninggal, Firaun dimakamkan bersama harta bendanya di makam berhias tulisan hieroglif, jenasahnya diawetkan dengan ramuan khusus, minyak dan garam, kemudian dibungkus dengan kain kedap udara yang diikat.
Tersebutlah seorang Raja Mesir bernama Thutmose I. Berkuasa pada 1506-1493 SM, Ia adalah Firaun ketiga dari dinasti ke-18 mesir.
Pada masa kekuasaannya, ia membangun banyak kuil dan pemakaman untuknya di Lembah Raja-raja.
Untuk melanggengkan kekuasaannya ia memelihara sejumlah pembisik, yaitu para ahli nujum untuk meramalkan masa depan kekuasaanya.
Ketika suatu malam bermimpi Mesir terbakar, para pembisiknya menyebut kekuasaannya yang terancam.
Para pembisik menyarankannya membunuh seluruh bayi laki-laki yang ada di Mesir.
Salah satu bayi yang selamat dari pembantaian Firaun adalah bayi Musa yang hanyut di sungai Nil dan ditemukan oleh Asiyah, istri Firaun.
Ia dibesarkan di lingkungan kerajaan Mesir. Belakangan, Musa harus melarikan diri dari istana.
Musa terancam hukuman mati sebab ia terlibat perkelahian dengan seorang prajurit kerajaan bernama Fatun..
Selama pelarian keluar Mesir, Musa bertemu Nabi Syuaib dan putrinya, Shafura.
Di sinilah Musa bekerja membantu Syuaib, juga menikah dengan Shafura.
Sementara di Mesir tampuk kekuasaan sudah beralih. Thutmose I wafat dan digantikan putranya, Thutmose II.
Menurut catatan sejarah, Thutmose II bukanlah sosok Fir'aun yang hebat.
Ia berada dibawah bayang-bayang istrinya, Ratu Hatshepsut, yang berperan penting dalam mengatur kerajaan.
Adapun Musa mendapat tugas dari Allah untuk menyampaikan ajaran agama yang hakiki kepada Fir'aun.
Maka kembalilah Musa ke Mesir menyampaikan dakwah. Selain itu, Musa juga memiliki misi membebaskan budak di tanah Mesir.
Waktu itu, Musa sudah mendapat wahyu di Bukit Thur Sina bahwa ia telah diangkat menjadi nabi.
Tentulah jalan dakwah Musa mendapat pertentangan dari Firaun.
Maklum, dakwah Musa juga mengancam eksistensi Firaun yang menyebut dirinya Tuhan.
Maka, Thutmose II pun memimpin tentaranya mengejar Musa hingga ke tepi Laut Merah.
Di sinilah mukzizat terjadi. Dengan tongkat ajaibnya, Musa membelah Laut Merah dan menyelamatkan pengikutnya.
Adapun Thutmose II bersama tentaranya tewas tergulung gelombang saat Musa dan pengikutnya berada di seberang.
Setelah Thutmose II tewas, maka yang menjadi Firaun adalah sang ratu, Hatshepsut. Ia memerintah kerajaan Mesir bersama anak tirinya yang sekaligus juga adalah keponakannya, Thutmose III.
Selama dua puluh dua tahun pertama pemerintahan, Hatshepsut, yang menjabat sebagai firaun.
Berdasarkan peninggalan monumennya, nama Hatshepsut disebut lebih awal, keduanya menyandang gelar kerajaan dan lambang yang sama tanpa menunjukkan salah satu memiliki kedudukan lebih tinggi dari yang lain.
Thutmose III adalah Firaun keenam dari Dinasti ke-18.
Ia dimakamkan di Lembah Para Raja-raja bersama raja-raja Mesir yang berasal dari periode ini.
BEGITU
terlintas nama Firaun, langsung terbayang sosok penguasa kejam yang
penuh angkara murka. Ia adalah Raja di Mesir yang juga mengaku Tuhan.
Firaun –bahasa Arab disebut Fir’awn-- bukanlah nama seseorang. Aslinya berasal dari kata Paroh (bahasa Ibrani) atau Pr-Aa (bahasa Mesir) yang artinya adalah rumah besar (istana) kemudian bergeser menjadi gelar bagi penguasa.
Gelar Firaun berkembang di masyarakat pertanian yang hidup di lembah Sungai Nil, Mesir. Nama itu merujuk pada sosok yang dihormati dan menjadi pengatur norma-norma kehidupan di kawasan itu.
Seirama dengan perkembangan masyarakat, maka gelar ini menjadi milik pemimpin negara dan pemimpin agama. Semula ada dua penguasa di Mesir, yaitu di hilir dan hulu Sungai Nil. Belakangan Raja Menes dari Thebes menyatukannya.
Dari Raja Menes inilah kedigdayaan Firaun dimulai. Ia hidup sekitar 3100-3000 SM, dalam catatan sejarah Menes disebut sebagai Raja Mesir Dinasti I. Dialah yang mendirikan Memphis yang menjadi ibukota Mesir.
Firaun tak hanya seorang raja, ia juga menyebut dirinya sebagai Tuhan, atau setidaknya dianggap sebagai wakil bangsa Mesir di hadapan para dewa. Sehingga setelah meninggal, Firaun dimakamkan bersama harta bendanya di makam berhias tulisan hieroglif, jenasahnya diawetkan dengan ramuan khusus, minyak dan garam, kemudian dibungkus dengan kain kedap udara yang diikat.
Tersebutlah seorang Raja Mesir bernama Thutmose I. Berkuasa pada 1506-1493 SM, Ia adalah Firaun ketiga dari dinasti ke-18 mesir. Pada masa kekuasaannya, ia membangun banyak kuil dan pemakaman untuknya di Lembah Raja-raja.
Untuk melanggengkan kekuasaannya ia memelihara sejumlah pembisik, yaitu para ahli nujum untuk meramalkan masa depan kekuasaanya. Ketika suatu malam bermimpi Mesir terbakar, para pembisiknya menyebut kekuasaannya yang terancam. Para pembisik menyarankannya membunuh seluruh bayi laki-laki yang ada di Mesir.
Salah satu bayi yang selamat dari pembantaian Firaun adalah bayi Musa yang hanyut di sungai Nil dan ditemukan oleh Asiyah, istri Firaun. Ia dibesarkan di lingkungan kerajaan Mesir. Belakangan, Musa harus melarikan diri dari istana. Musa terancam hukuman mati sebab ia terlibat perkelahian dengan seorang prajurit kerajaan bernama Fatun..
Selama pelarian keluar Mesir, Musa bertemu Nabi Syuaib dan putrinya, Shafura. Di sinilah Musa bekerja membantu Syuaib, juga menikah dengan Shafura.
Sementara di Mesir tampuk kekuasaan sudah beralih. Thutmose I wafat dan digantikan putranya, Thutmose II. Menurut catatan sejarah, Thutmose II bukanlah sosok Fir'aun yang hebat. Ia berada dibawah bayang-bayang istrinya, Ratu Hatshepsut, yang berperan penting dalam mengatur kerajaan.
Adapun Musa mendapat tugas dari Allah untuk menyampaikan ajaran agama yang hakiki kepada Fir'aun. Maka kembalilah Musa ke Mesir menyampaikan dakwah. Selain itu, Musa juga memiliki misi membebaskan budak di tanah Mesir. Waktu itu, Musa sudah mendapat wahyu di Bukit Thur Sina bahwa ia telah diangkat menjadi nabi.
Tentulah jalan dakwah Musa mendapat pertentangan dari Firaun. Maklum, dakwah Musa juga mengancam eksistensi Firaun yang menyebut dirinya Tuhan.
Maka, Thutmose II pun memimpin tentaranya mengejar Musa hingga ke tepi Laut Merah. Di sinilah mukzizat terjadi. Dengan tongkat ajaibnya, Musa membelah Laut Merah dan menyelamatkan pengikutnya. Adapun Thutmose II bersama tentaranya tewas tergulung gelombang saat Musa dan pengikutnya berada di seberang.
Setelah Thutmose II tewas, maka yang menjadi Firaun adalah sang ratu, Hatshepsut. Ia memerintah kerajaan Mesir bersama anak tirinya yang sekaligus juga adalah keponakannya, Thutmose III.
Selama dua puluh dua tahun pertama pemerintahan, Hatshepsut, yang menjabat sebagai firaun. Berdasarkan peninggalan monumennya, nama Hatshepsut disebut lebih awal, keduanya menyandang gelar kerajaan dan lambang yang sama tanpa menunjukkan salah satu memiliki kedudukan lebih tinggi dari yang lain.
Thutmose III adalah Firaun keenam dari Dinasti ke-18. Ia dimakamkan di Lembah Para Raja-raja bersama raja-raja Mesir yang berasal dari periode ini.
- See more at: http://atjehpost.co/articles/read/17932/Firaun-Istri-dan-Pembisik#sthash.5xlVijR7.dpuf
Firaun –bahasa Arab disebut Fir’awn-- bukanlah nama seseorang. Aslinya berasal dari kata Paroh (bahasa Ibrani) atau Pr-Aa (bahasa Mesir) yang artinya adalah rumah besar (istana) kemudian bergeser menjadi gelar bagi penguasa.
Gelar Firaun berkembang di masyarakat pertanian yang hidup di lembah Sungai Nil, Mesir. Nama itu merujuk pada sosok yang dihormati dan menjadi pengatur norma-norma kehidupan di kawasan itu.
Seirama dengan perkembangan masyarakat, maka gelar ini menjadi milik pemimpin negara dan pemimpin agama. Semula ada dua penguasa di Mesir, yaitu di hilir dan hulu Sungai Nil. Belakangan Raja Menes dari Thebes menyatukannya.
Dari Raja Menes inilah kedigdayaan Firaun dimulai. Ia hidup sekitar 3100-3000 SM, dalam catatan sejarah Menes disebut sebagai Raja Mesir Dinasti I. Dialah yang mendirikan Memphis yang menjadi ibukota Mesir.
Firaun tak hanya seorang raja, ia juga menyebut dirinya sebagai Tuhan, atau setidaknya dianggap sebagai wakil bangsa Mesir di hadapan para dewa. Sehingga setelah meninggal, Firaun dimakamkan bersama harta bendanya di makam berhias tulisan hieroglif, jenasahnya diawetkan dengan ramuan khusus, minyak dan garam, kemudian dibungkus dengan kain kedap udara yang diikat.
Tersebutlah seorang Raja Mesir bernama Thutmose I. Berkuasa pada 1506-1493 SM, Ia adalah Firaun ketiga dari dinasti ke-18 mesir. Pada masa kekuasaannya, ia membangun banyak kuil dan pemakaman untuknya di Lembah Raja-raja.
Untuk melanggengkan kekuasaannya ia memelihara sejumlah pembisik, yaitu para ahli nujum untuk meramalkan masa depan kekuasaanya. Ketika suatu malam bermimpi Mesir terbakar, para pembisiknya menyebut kekuasaannya yang terancam. Para pembisik menyarankannya membunuh seluruh bayi laki-laki yang ada di Mesir.
Salah satu bayi yang selamat dari pembantaian Firaun adalah bayi Musa yang hanyut di sungai Nil dan ditemukan oleh Asiyah, istri Firaun. Ia dibesarkan di lingkungan kerajaan Mesir. Belakangan, Musa harus melarikan diri dari istana. Musa terancam hukuman mati sebab ia terlibat perkelahian dengan seorang prajurit kerajaan bernama Fatun..
Selama pelarian keluar Mesir, Musa bertemu Nabi Syuaib dan putrinya, Shafura. Di sinilah Musa bekerja membantu Syuaib, juga menikah dengan Shafura.
Sementara di Mesir tampuk kekuasaan sudah beralih. Thutmose I wafat dan digantikan putranya, Thutmose II. Menurut catatan sejarah, Thutmose II bukanlah sosok Fir'aun yang hebat. Ia berada dibawah bayang-bayang istrinya, Ratu Hatshepsut, yang berperan penting dalam mengatur kerajaan.
Adapun Musa mendapat tugas dari Allah untuk menyampaikan ajaran agama yang hakiki kepada Fir'aun. Maka kembalilah Musa ke Mesir menyampaikan dakwah. Selain itu, Musa juga memiliki misi membebaskan budak di tanah Mesir. Waktu itu, Musa sudah mendapat wahyu di Bukit Thur Sina bahwa ia telah diangkat menjadi nabi.
Tentulah jalan dakwah Musa mendapat pertentangan dari Firaun. Maklum, dakwah Musa juga mengancam eksistensi Firaun yang menyebut dirinya Tuhan.
Maka, Thutmose II pun memimpin tentaranya mengejar Musa hingga ke tepi Laut Merah. Di sinilah mukzizat terjadi. Dengan tongkat ajaibnya, Musa membelah Laut Merah dan menyelamatkan pengikutnya. Adapun Thutmose II bersama tentaranya tewas tergulung gelombang saat Musa dan pengikutnya berada di seberang.
Setelah Thutmose II tewas, maka yang menjadi Firaun adalah sang ratu, Hatshepsut. Ia memerintah kerajaan Mesir bersama anak tirinya yang sekaligus juga adalah keponakannya, Thutmose III.
Selama dua puluh dua tahun pertama pemerintahan, Hatshepsut, yang menjabat sebagai firaun. Berdasarkan peninggalan monumennya, nama Hatshepsut disebut lebih awal, keduanya menyandang gelar kerajaan dan lambang yang sama tanpa menunjukkan salah satu memiliki kedudukan lebih tinggi dari yang lain.
Thutmose III adalah Firaun keenam dari Dinasti ke-18. Ia dimakamkan di Lembah Para Raja-raja bersama raja-raja Mesir yang berasal dari periode ini.
- See more at: http://atjehpost.co/articles/read/17932/Firaun-Istri-dan-Pembisik#sthash.5xlVijR7.dpuf