Tetapi ketika menikah, mau
tidak mau saya juga harus belajar memasak. Awalnya sungguh sulit sekali.
Suatu ketika saya menanak nasi terlalu keras, bahkan sampai gosong
bagian bawahnya. Ketika makan malam, saya sungguh takut kalau diomelin
mertua. Tapi tahukah apa yang dikatakan mertua saya?
“Wah… Zhong, Kamu sungguh beruntung.
Istri kamu sungguh tahu selera
makan kamu. Nasi hari ini sungguh cocok dengan kuah sayur panas mengepul
ini.
Ayo makan lebih banyak lagi.” Saya hanya bisa ter-sipu-sipu saat itu.
Saya kemudian kalau memasak
nasi jadinya lebih hati-hati, Takaran air benar-benar diperhatikan. Tapi
suatu ketika malah saya kebanyakan menaruh airnya, Akibatnya nasinya
macam bubur kental saja.
Tapi saat makan mertua saya malah berkata penuh kasih : “Pa..
Coba lihat, Menantu kita sungguh mengerti.
Tahu gigi kamu sudah gak
begitu kuat, hari ini khusus memasakkan nasi lembut tambah sambal enak.
Makan yang banyak ya?”
Saat dalam keadaan santai, saya mengutarakan pada ibu mertua betapa malunya saya. Beliau hanya tersenyum dan berujar : “Kamu sedang belajar menjadi menantu yang baik”
Keluarga kami sungguh beruntung dengan adanya kamu yang membantu
mengurusi anak dan keluarga.
Bagaimana mungkin saya bisa marah? Mama
tahu kamu sudah berusaha yang terbaik.
Mama bisa mengerti, Karena mama juga seorang menantu.
Mama adalah
menantunya nenek. Jadi mama sungguh paham bagaimana perasaan seorang
menantu.”
Hari itu saya sungguh terharu dan saya memutuskan untuk menunjukkan diri saya sebagai menantu terbaik.
Hanya mertua yang arif dan menantu bijaksanalah yang akan mendatangkan sukacita dan tawa-ria dalam keluarga.
Keluarga rukun harmonis dimulai dari diri kita masing-masing, selalu berusaha berbuat yang terbaik.