Senin, 27 Mei 2013

Kisah Tempayan Retak

Dikisahkan ada seorang tukang air memiliki dua tempayan seramik ( gentong ) besar yang difungsikan untuk mengangkut air dari sumber mata air ke rumah majikannya

Masing-masing tempayan bergantung pada kedua ujung sebuah pikulan, yang dibawa dengan cara menyilang pada pundak si tukang air

Satu dari tempayan itu retak dan bocor, sedangkan tempayan yang satunya lagi bagus dan tidak bocor

Setiap kali si tukang air mengambil air dari sumbernya, kedua tempayan itu diisi penuh dan dipikul ke penampungan air di rumah majikannya, namun tempayan yang retak itu selalu isinya tinggal setengah ketika hendak dituangkan kedalam bak air

Sedangkan tempayan yang bagus isinya masih penuh sesuai dengan waktu pengambilan air. Selama dua tahun, hal ini terjadi setiap hari

Si tukang air hanya dapat membawa satu setengah tempayan air ke rumah majikannya setiap kali mengangkut air

Tentu saja si tempayan yang bagus merasa bangga akan prestasinya, karena dapat menunaikan tugasnya dengan sempurna

Berbeda dengan si tempayan retak merasa malu akan kekurangannya dan merasa sedih sebab ia hanya dapat memberikan setengah dari porsi yang seharusnya bisa ia berikan

Setelah dua tahun tertekan oleh masalah itu, tempayan retak mulai minder, apalagi sering dilecehkan oleh tempayan yang bagus

Tempayan retak merasa malu, lalu ia berkata kepada si tukang air, “aku sungguh malu pada diriku sendiri, dan aku ingin mohon maaf kepadamu”. 

Kenapa?” tanya si tukang air. “Kenapa kamu merasa malu?”

Selama dua tahun ini, aku hanya mampu membawa setengah porsi air dari yang seharusnya dapat kubawa

Karena kekuranganku selama ini, telah membuatmu rugi,” kata tempayan retak itu

Aku juga tidak mau menjadi bahan tertawaan sahabatku si tempayan yang bagus, ketidak sempurnaanku menjadi bahan celaan buat dia

Mulai besok aku mau berhenti mengangkut air, karena memang aku tidak mampu, pinta tempayan retak kepada tukang air

Si tukang air merasa kasihan pada si tempayan retak, dan dalam belas kasihannya, ia berkata, ” besok kita akan mengambil air lagi, aku ingin kamu memperhatikan sepanjang jalan yang kita lalui dari sisimu berada dan sisi si tempayan bagus, kata tukang air

Besok harinya, ketika membawa air dari sumbernya, si tempayan retak memperhatikan dan baru menyadari bahwa ada bunga-bunga indah di sepanjang sisi jalan, dan itu membuatnya sedikit terhibur

Sementara itu di sisi sahabatnya tempayan yang bagus sepanjang jalan kelihatan gersang

Namun pada akhir perjalanan, ia kembali sedih karena separuh air yang dibawanya telah bocor, dan kembali tempayan retak itu meminta maaf pada si tukang air atas kegagalannya

Si tukang air berkata kepada tempayan itu, “Apakah kamu memperhatikan adanya bunga-bunga di sepanjang jalan di sisimu tapi tidak ada bunga di sepanjang jalan di sisi tempayan yang lain yang tidak retak itu?”

Tempayan retak menjawab: ” iya aku lihat, tapi apa hubungannya dengan masalahku? tanya tempayan retak. Begini maksudku, dari dulu aku menyadari akan kondisimu yang kamu anggap sebagai kekuranganmu. Aku justru melihat itulah kelebihanmu dan aku memanfaatkannya

Aku telah menabur benih-benih bunga di sepanjang jalan di sisimu, dan setiap hari jika kita berjalan pulang dari mata air, kamu menyirami benih-benih tersebut tanpa kamu sadari

Selama dua tahun ini aku telah dapat memetik bunga-bunga indah itu untuk menghias meja majikan kita

Tanpa keberadaanmu dan retak yang kamu anggap sebagai kekuranganmu, majikan kita tak akan dapat menghias rumahnya dengan bunga-bunga seindah sekarang

Kamu tidak memahami dan tidak menyadari bahwa apa yang kamu anggap sebagai kelemahanmu, justru adalah kelebihanmu

Kamu telah menciptakan potensi kehidupan baru yang sangat berguna, sedangkan tempayan bagus, dia memang produktif dalam melaksanakan tugasnya, tapi kamu lihat di sepanjang jalan di wilayah dia, tanahnya tetap gersang tanpa bunga2 yang indah

Entri Populer