Manusia sebagai makhluk Tuhan paling sempurna di muka bumi ini, tidak
akan lepas dari apa yang namanya interaksi sosial, mulai dari lingkup
kecil (keluarga) sampai lingkup besar (umum).
Untuk itu, setiap pribadi
akan berusaha untuk bisa hidup bahagia dalam setiap harinya.
Namun, sepeti apakah kebahagiaan yang ada diri manusia?
Ibnu Maskawih
(941-1030 M), seorang ahli sejarah dan ilmuah akhlak yang handal, dalam
karya, Tartibus Sa’adah”, mengatakan bahwa ada lima kebahagiaan yang ada
pada pribadi setiap manusia.
Lima kebagiaan tersebut adalah ;
kebahagiaan materi, mental, intelektual, moral dan spiritual.
- Kebahagiaan materi.
Kebahagiaan materi ini sangat diminati setiap
individu manusia, tanpa terkecuali.
Seseorang akan merasa bahagia
apabila ia sudah mendapatkan materi, karena dalam hidup ini tidak akan
lepas dai apa yang namanya materi.
Tanpa materi kita tidak akan bisa
hidup “nyaman” dalam setiap harinya. Demi materi, kita tidak jarang
peras keringat ke sana ke mari.
Semua itu hanya untuk mendapat materi.
Namun, perlu diingat bahwa materi bukanlah segala-galannya.
Dan
kebahagiaan materi ini tidaklah kekal adanya.
Kebahagiaan materi ini
hanya akan kita nikmati selagi kita masih hidup (dunia) saja.
- Kebahagiaan mental.
Kebahagian mental ini akan biasa dinikmati bagi
mereka yang suka akan keindahan (baca: seniman).
Seorang akan merasa
bahagia ketika ia sudah mencipta atau melahirkan sebuah karya dari
tangan sendiri.
Begitu juga seorang seniman akan merasa bahagia ketika
ia mendapatkan hasil karya, baik milik sendiri ataupun milik orang lain.
Ketika seperti itulah kebahagiaan mental menghampiri seorang (seniman).
- Kebahagiaan intelektual.
Intelektual sesorang bisa dilihat dari
bagaimana ia menggunakan akal pikirannya.
Kebahagiaan intelektual ini
merupakan kebahagian akademisi yang tentunya di dambakan seseorang,
apalagi mereka segenap orangtua, yang semuanya ingin anak-cucunya
mempunya otak encer dengan daya guna tinggi.
- Kebahagian moral.
Kebahagiaan moral ini ada pada seseorang yang bisa
mengaplikasikan intelektualitasnya terhadap apa yang ia jalani.
Kebagiaan intelektual tidak akan ada hitungan tanpa diimbangi dengan
kebahagiaan moral yang menentukan sikap seseorang dalam berinteraksi.
Kecerdasan intelektual, tanpa adanya kecerdasan moral akan seperti
halnya pepohonan yang tidak berbuah.
- Kebahagiaan spiritual.
Kebahagiaan yang terakhir ini merupakan
kebahagian penyempurna dari kebahagiaan-kebagiaan sebelumnya.
Kebahagiaan spritual sangat menentukan pada kwalitas lembut tidaknya
kebagiaan seseorang.
Andaikan sebuah rutinitas kesehariaan, kebahagiaan
spiritual ini berfungsi sebagai pendingin yang dibutuhkan setiap
individu.
Lima kebagiaan di atas itulah yang ada pada pribadi setiap manusia.
Namun, bisakah kita menfungsikan lima kebahagiaan di atas? Pembaca
sendiri tentunya yang menentukan.
Sabtu, 29 September 2012
-
Saya lupa kunci keamanan (password) Sandi dapat direset dengan menggunakan utilitas FlashAir Buka utilitas FlashAir. Pilih "Peng...
-
Ibrahim Pasha dikenal sebagai Pargali Ibrahim Pasha ketika ia dinobatkan sebagai Wazir Agung, mengganti Piri Mehmed Pasha pada 1523. Jabata...
Entri Populer
-
Kesetiaan itu adalah hal yang paling penting dalam hubungan, Tanpa kesetiaan hubungan yang bernamakan cinta hanya akan sangat menyakitka...
-
Bayi super besar Muhammad Akbar Arya Risudin masih menjadi pusat perhatian. Selain didatangi warga dari berbagai kota di Sumatra Ut...
-
Ustadzah : Saya tak Pernah Menolak Hukum Poligami ! Jamaah Pria : ( Terdegar Suara Ribut ) Wah, Hebat Nih Ustadzah : Saya juga Tida...
-
kebiasaan ini harus anda hindari. Mungkin anda sendiri tidak menyadarinya karena sudah menjadi kebiasaan anda sehari-hari. Apa saja 7 ke...
-
Teka-teki Binatang 01. Bebek apa yg jalannya selalu muter ke kiri terus? Bebek dikunci stang 02. Kenapa Bebek goreng enak rasanya? Kare...
-
1. Hematlah dalam mengeluarkan uang anda, cerdaslah dalam mengelola uang yang telah anda hemat. 2. Hemat membuat anda tidak kekurangan uang,...