Harus diakui kekalahan itu menyakitkan.
Tapi ingatlah di atas langit masih ada langit.
So, sebenarnya kekalahan adalah hal yang niscaya. Wajar saja, pasti.
Ayah saya pernah berkata kepada saya, “Memang kekalahan itu hal yang wajar.
Setiap pemenang pasti pernah kalah. Namun, jangan pernah berpusat pada kekalahan.
Karena kapan saja kamu berpikir tentang apa yang akan dilakukan nantinya jika kalah, maka saat itu juga kamu sudah kalah.”
Ya, menerima kekalahan, bukan berarti pesimis. Tapi lebih kepada menyikapinya.
Coba lihat anak kecil. Ketika dia belajar berjalan, dia sering terjatuh (baca: kalah), tapi anak kecil tersebut justru tertawa dan dalam bahasa yang lebih keren: bangkit lagi dan menganggap kekalahannya sebagai proses, lalu dia tidak pernah menyerah.
Sekarang, masalahnya bukan bagaimana agar tidak kalah. Tapi bagaimana kita menyikapi kekalahan tersebut.
Bukankah kekalahan adalah hal yang wajar?
Pemenang dan pecundang itu bukan tentang status, tapi ini tentang mindset. Sama halnya dengan bahagia.
Bahagia bukanlah outpun dari rangsangan luar, tetapi bahagia adalah ketika kita men-set hati kita untuk bahagia.
Begitulah kekalahan. Menyikapinya adalah hal yang baik, dan menyikapinya dengan baik adalah hal yang bijaksana.
Orang-orang yang tidak bisa menerima kekalahannya, sebenarnya bukanlah orang-orang yang lemah, mereka hanya tidak bisa men-set mindsetnya sebagai seorang pemenang.
Di saat orang-orang kalah menyesali dan menangisi batu-batu yang menyandungnya ketika dalam perjalanan menuju sukses, orang-orang sukses justru mengumpulkannya dan dijadikannya batu loncatan.
Akhirnya Ayah saya berkata, “Jika kamu telah mengalami kekalahan terbesarmu dalam hidup, maka sisanya adalah sukses.
Tidak ada lagi kekalahan yang tak lagi tak dapat kamu atasi.”







